American Party SC – Indonesia kembali menjadi tuan rumah latihan militer besar-besaran bertajuk Super Garuda Shield 2025, sebuah latihan gabungan bersama yang melibatkan ribuan prajurit dari berbagai negara. Upacara pembukaan berlangsung di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Jakarta, dipimpin langsung oleh Wakil Panglima TNI, Mayjen Tandyo Budi Revita, bersama Panglima Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat, Laksamana Samuel J. Paparo. Kehadiran tokoh penting ini menandai besarnya arti strategis dari latihan tersebut.
Latihan ini disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah penyelenggaraannya. Tercatat lebih dari 6.500 personel ambil bagian, dengan 13 negara terlibat sebagai peserta aktif. Negara-negara tersebut di antaranya Indonesia, Amerika Serikat, Australia, Kanada, Jepang, Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Korea Selatan, Brasil, Singapura, serta Selandia Baru. Latihan berlangsung hingga awal September dengan cakupan wilayah dari Jakarta, Bogor, dan Baturaja hingga Dabo Singkep di Kepulauan Riau.
Super Garuda Shield 2025 tidak sekadar menghadirkan skenario pertempuran darat, melainkan mengintegrasikan beragam operasi yang mencerminkan tantangan keamanan masa kini. Salah satu bagian latihan adalah operasi amfibi, yang memanfaatkan kapal dok kelas Makassar sebagai sarana pendaratan pasukan dan peralatan tempur. Operasi ini dirancang untuk mensimulasikan skenario perebutan wilayah pantai serta dukungan logistik di garis depan.
Selain itu, terdapat pula latihan terjun payung gabungan yang melibatkan ratusan personel dari Indonesia, Amerika Serikat, dan Jepang. Dalam skenario tersebut, pasukan diterjunkan dari pesawat C-130 untuk merebut lapangan udara musuh secara simulatif. Tak hanya itu, Super Garuda Shield juga mencakup latihan siber dan perencanaan staf, yang memperlihatkan bahwa ancaman dunia maya kini menjadi bagian integral dari peperangan modern.
Baca Juga : Trump Effect: Strategi Pengusaha Indonesia Menghadapi Tantangan Global
Beberapa poin penting dalam latihan Super Garuda Shield 2025 dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Negara Peserta Utama – Indonesia bersama 12 negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, hingga Kanada ikut ambil bagian aktif dalam operasi lintas matra.
2. Negara Pengamat – Selain peserta utama, ada 11 negara lain yang hadir sebagai pengamat. Kehadiran mereka memperluas makna diplomasi pertahanan dan menunjukkan daya tarik latihan ini di mata dunia.
3. Jenis Latihan – Termasuk operasi amfibi, latihan udara, tembakan langsung (live-fire), operasi darat, latihan siber, serta perencanaan bersama di tingkat staf.
4. Lokasi Strategis – Latihan digelar di beberapa lokasi penting: Jakarta sebagai pusat koordinasi, Baturaja sebagai basis darat, Bogor untuk latihan gabungan, serta Dabo Singkep yang memiliki nilai strategis maritim.
5. Logistik dan Dukungan Armada – Kapal logistik seperti MV Cape Hudson digunakan untuk memindahkan perlengkapan besar, menegaskan kesiapan logistik dalam skala global.
Bagi Indonesia, Super Garuda Shield 2025 merupakan kesempatan memperkuat kemampuan tempur sekaligus memperluas jejaring militer dengan negara mitra. Latihan bersama ini meningkatkan interoperabilitas, sehingga pasukan dari berbagai negara mampu bekerja sama secara efektif dalam misi gabungan. Dengan kata lain, latihan ini bukan hanya tentang keterampilan teknis, melainkan juga membangun kepercayaan dan kebersamaan antar-angkatan bersenjata.
Bagi Amerika Serikat dan sekutunya, kegiatan ini juga menjadi pesan strategis di kawasan Indo-Pasifik. Kehadiran kekuatan militer multinasional menunjukkan komitmen kolektif untuk menjaga kawasan tetap aman, terbuka, dan bebas dari dominasi tunggal. Meski demikian, Indonesia tetap menjaga sikap politik luar negeri yang bebas aktif, dengan tetap menjalin hubungan baik dengan berbagai kekuatan besar, termasuk Tiongkok.
Simak Juga : Cara Restore Backup WordPress di cPanel: Panduan Mudah untuk Pemula
Super Garuda Shield 2025 mencerminkan peran Indonesia yang semakin penting dalam dinamika keamanan regional. Dengan menyelenggarakan latihan berskala besar, Indonesia tidak hanya menunjukkan kesiapan militernya, tetapi juga kemampuannya menjadi tuan rumah kolaborasi internasional.
Ke depan, latihan seperti ini dapat menjadi model bagaimana negara-negara kawasan membangun kerja sama pertahanan tanpa kehilangan kedaulatan nasional. Bagi TNI, pengalaman di lapangan menjadi bekal penting untuk meningkatkan profesionalisme prajurit. Sementara bagi Indonesia secara keseluruhan, latihan ini menegaskan posisi strategis sebagai negara kunci dalam menjaga stabilitas Indo-Pasifik.